featured-content
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Prabowo vs Wiranto
Kalau melihat perseteruan 2 Purn. Jenderal (Prabowo vs Wiranto) di media massa, Fajar jadi inget cerita di film Tropa de Elite 2 (Elite Squad : The Enemies Within). Prabowo & Wiranto saling lempar tanggung jawab soal Kerusuhan Mei 1998. Mirip dengan perseteruan Kapten Andrea Mathias dengan atasannya Kolonel Roberto Nascimento.
Seperti cerita di film yang Fajar sebut tadi. Alkisah "Kapten Andrea Mathias" memimpin regu Alpha dari kesatuan BOPE (semacam Densus 88 di Brazil) menyerbu masuk lapas "Bangu 1". Dimana sekelompok napi mengamuk, mendobrak keluar sel, membunuh kelompok napi yang lain dan menyandera beberapa sipir.
Kapt. Mathias Merangsek masuk ke dalam Lapas atas arahan Kol. Nascimento. Sampai akhirnya "Beirada - pimpinan napi yang berontak" meminta untuk diadakan perundingan. Namun saat Kol. Nascimento masih ragu untuk mengambil keputusan, Kapt. Mathias sudah lebih dulu beraksi dan menghabisi "Beirada" dan beberapa napi lainnya.
Hasil dari Operasi Bangu 1 sungguh ironis. Kol. Nascimento dipromosikan menjadi Deputi Sekretaris Badan Intelejen, sedangkan Kapt. Mathias malah dikeluarkan dari kesatuan plus diskors dan ditahan karena menghina semua atasannya sebagai pengecut yang lempar tanggung jawab dan cuma cari muka saja.
Kembali ke kisah 2 jenderal tadi. Walaupun masih belum jelas apa yang terjadi, tapi yang jelas kerusuhan Mei 1998 menjadi titik balik dari jarir keduanya. Dimana Wiranto masih memegang beberapa jabatan pada pemerintahan berikutnya, sedangkan Prabowo diberhentikan dari kesatuan lalu mengasingkan diri selama beberapa tahun ke luar negeri.
Kalau masih belum paham apa yang Fajar bahas di sini, tonton sendiri saja filmnya "Tropa de Elite 2 (Elite Squad : The Enemies Within)". Mumpung momennya juga lagi pas. Berseting di pemukiman kumuh di sekitar Rio de janeiro - Brazil. Kita bisa sedikit melihat sisi lain dari kota berlangsungnya FIFA World Cup 2014 ini.
Seperti cerita di film yang Fajar sebut tadi. Alkisah "Kapten Andrea Mathias" memimpin regu Alpha dari kesatuan BOPE (semacam Densus 88 di Brazil) menyerbu masuk lapas "Bangu 1". Dimana sekelompok napi mengamuk, mendobrak keluar sel, membunuh kelompok napi yang lain dan menyandera beberapa sipir.
Kapt. Mathias Merangsek masuk ke dalam Lapas atas arahan Kol. Nascimento. Sampai akhirnya "Beirada - pimpinan napi yang berontak" meminta untuk diadakan perundingan. Namun saat Kol. Nascimento masih ragu untuk mengambil keputusan, Kapt. Mathias sudah lebih dulu beraksi dan menghabisi "Beirada" dan beberapa napi lainnya.
Hasil dari Operasi Bangu 1 sungguh ironis. Kol. Nascimento dipromosikan menjadi Deputi Sekretaris Badan Intelejen, sedangkan Kapt. Mathias malah dikeluarkan dari kesatuan plus diskors dan ditahan karena menghina semua atasannya sebagai pengecut yang lempar tanggung jawab dan cuma cari muka saja.
Kembali ke kisah 2 jenderal tadi. Walaupun masih belum jelas apa yang terjadi, tapi yang jelas kerusuhan Mei 1998 menjadi titik balik dari jarir keduanya. Dimana Wiranto masih memegang beberapa jabatan pada pemerintahan berikutnya, sedangkan Prabowo diberhentikan dari kesatuan lalu mengasingkan diri selama beberapa tahun ke luar negeri.
Kalau masih belum paham apa yang Fajar bahas di sini, tonton sendiri saja filmnya "Tropa de Elite 2 (Elite Squad : The Enemies Within)". Mumpung momennya juga lagi pas. Berseting di pemukiman kumuh di sekitar Rio de janeiro - Brazil. Kita bisa sedikit melihat sisi lain dari kota berlangsungnya FIFA World Cup 2014 ini.
Catatan Fajar tentang 6 Presiden RI terdahulu
Catatan Fajar tentang 6 Presiden terdahulu :
1. Ir. Soekarno : Bapak Proklamator bangsa, pemersatu Asia Afrika yang banyak dikagumi para wanita di masanya
2. H.M Soeharto : Bapak Pembangunan Indonesia yang senyumnya ditakuti para aktivis di seantero Nusantara
3. B.J Habibie : Bapak Candekiawan bangsa, menimba ilmu di tanah Bavaria yang membuat kita antri untuk menonton filmnya
4. K.H Abdurrahman Wahid : Bapak Pluralisme bangsa. Seorang alim ulama yang penuh dengan tautan jenaka tapi sarat makna
5. Megawati S.P : Presiden wanita pertama Indonesia. Seorang putri yang membawa nama besar serta meneruskan cita - cita ayahnya.
6. Susilo Bambang Yudhoyono : Bapak pencitraan bangsa dan pemerataan pembangunan yang mewariskan kepada kita 4 album rekaman. Sudah koleksi semuanya ...???
Sex Ratio di Arab versus Nasib TKW Indonesia
(Opini Fajar)
Gambar tabel berikut adalah data "Sex Ratio" atau perbandingan antara jumlah penduduk laki - laki dan perempuan pada kelompok umur tertentu di sebuah negara. Seperti yg bisa anda lihat pada tabel tsb. (kolom paling kanan atas). Di "Uni Emirat Arab" jumlah penduduk laki- laki dan perempuan pada usia 15 s/d 60 tahun adalah 2.74 . Artinya 1 perempuan berbanding hampir 3 laki - laki. Hal ini menunjukkan bahwa "Uni Emirat Arab" sangat KEKURANGAN PEREMPUAN. Bagaimana bisa terjadi?
Gambar tabel berikut adalah data "Sex Ratio" atau perbandingan antara jumlah penduduk laki - laki dan perempuan pada kelompok umur tertentu di sebuah negara. Seperti yg bisa anda lihat pada tabel tsb. (kolom paling kanan atas). Di "Uni Emirat Arab" jumlah penduduk laki- laki dan perempuan pada usia 15 s/d 60 tahun adalah 2.74 . Artinya 1 perempuan berbanding hampir 3 laki - laki. Hal ini menunjukkan bahwa "Uni Emirat Arab" sangat KEKURANGAN PEREMPUAN. Bagaimana bisa terjadi?
Data ini diambil dari "World Factbook 2008" yang dirilis oleh CIA bersumber dari sensus penduduk negara yang bersangkutan. Angka "Sex Ratio" yang cukup tinggi di UAE dan negara2 arab lainnya menunjukkan diskriminasi gender di negara2 tsb. Dimana perempuan seringkali dianggap manusia kelas 2. Anak laki - laki jauh lebih berharga daripada anak perempuan. Bahkan bila bayi yg dikandung ternyata perempuan, mereka tak akan ragu untuk menggugurkannya. Lalu apa gunanya kita mengetahui data ini?
Indonesia adalah satu - satunya negara yg masih mengirimkan TKW ke negara2 arab sebagai tenaga PRT. Perlu diketahui, sampai hari ini tidak ada istilah "Pembantu Rumah Tangga" dalam bahasa arab, yg ada adalah "hamba sahaya". Ditambah dgn kondisi demografi seperti yg tertera pada data tadi, pantaslah kalau para TKW acapkali mendapatkan pelecehan selama bekerja. Belum lagi pihak oknum PJTKI yang tak kalah bejatnya. Seringkali calon TKW yg dikirim tidak diberi pelatihan yg memadai. Bahkan bahasa di tempat dimana dia akan bekerja pun tidak diajarkan. Bagaimana seandainya anda punya pembantu yg seperti ini? Disuruh cuci baju malah memasak? Atau keliru sabun cuci piring dipakai mencuci baju? Mungkin anda juga akan membentaknya? Memukulkan sapu ke tubuhnya? Atau menyiram mereka dgn air panas seperti cara orang2 arab itu menyiksa TKW kita?
Pandangan majikan arab terhadap TKW
Kembali ke data "Sex Ratio" tadi. Berapa kali kita dengar dari berita di media massa, TKW kita mendapat hukuman "Qishas" atau hukuman mati karena membunuh majikannya? Kenapa mereka sampai bisa begitu? Jawabnya ya karena itu tadi. Perempuan adalah barang langka di arab. Semakin klop dgn status TKW kita yang dianggap budak. Jadi mereka menganggap sah - sah saja untuk melampiaskan syahwatnya pada hamba sahaya di rumah. Pembelaan dari TKW kita yg dijatuhi Qishas rata2 karena membela diri dari perbuatan majikannya. Yang BERKALI - KALI hendak atau sudah melakukan pemerkosaan pada mereka. Celakanya KBRI seringkali tidak bisa banyak menolong, karena memang itulah hukum yang berlaku disana. Nyawa dibalas nyawa, darah dibayar darah.
kenapa TKW rentan menjadi korban tindak kriminal
Seharusnya pemerintah kita menghentikan pengiriman TKW sebagai PRT sejak dulu. Fajar yakin sebetulnya pemerintah sudah tahu akan hal ini. Tapi mengapa pemerintah seakan menutup mata. Atau kenapa tidak meniru langkah dari pemerintah Filiphina? Tahukah anda? Di kebanyakan rumah sakit di Jerman perawatnya berasal dari Filiphina?
http://m.bbc.co.uk/news/world-asia-18575810
Ya! TKW yg terdidik dan terlatih! Bukankah masih ada banyak peluang dan ada banyak sektor yg membutuhkan tenaga kerja terdidik dan terlatih? Kenapa pemerintah Indonesia tidak punya cita - cita mengirim Apoteker, Bidan, Montir, Teknisi, Salesman atau Akuntan keluar negeri? Kenapa biaya pendidikan untuk bidang2 tsb dibuat mahal? Atau kalau memang masih belum mampu membuat warga negaranya menjadi tenaga kerja yg kompeten, kenapa tetap memaksa untuk mengirim mereka ke luar negeri?
Fajar jadi teringat pada ucapan dari Bapak Proklamator kita : "Lebih baik hujan batu di negeri sendiri, daripada hujan emas di negeri orang". Celakanya, ternyata setelah ke negeri orang pun tenaga kerja kita masih dihujani batu. Setelah tak mampu mensejahterakan penduduknya di negeri sendiri, kenapa masih mengirim kita untuk disiksa di negeri orang?
(Opini Fajar)
video-entry
Labels
- Etc (1)
- Film (5)
- Hardware (2)
- Kerjaan Fajar (5)
- Lingkungan (2)
- Militer (3)
- Motosports (2)
- Musik (2)
- Politik (3)
- Software (2)



